Monday, February 26, 2007

GAUL TAPI TULALIT YAA...CUPU!

SMS dari Donna : “Yo, gue mau melacur neh…”

Aku mengernyitkan dahi, melacur? Astaga! Sudah gila temanku ini. Segera kupencet-pencet tombol HP ku.

“Gila lo Don, emank keabisan duit lo?”

SMS dari Donna : “Yasuuuww…..kalo ga’ boleh!”

Aku balas : “ Yasuuuwww??? Maksud lo? Bukannya nggak boleh Don…..”

SMS dari Donna : “LOL”

Huh….benar-benar sinting tuh anak. Segera kubalas SMS ngaconya itu : “Koq gitu sih? Nggak usah ngatain gue tolol donk!”

SMS dari Donna : “ABCD!”

Aku balas : “Tambah sinting!”

SMS dari Donna : “LOL ROFL”

Aku balas : “Udah, aku nggak mau ngomong sama kamu lagi!”

Ponsel langsung kumatikan.

“Yovita…..,” terdengar suara cempreng abangku, Johan, berteriak, “ada telepoooonnnn…”

Huh…aku bangun dengan malas. Ini pasti dari Donna.

“Bilangin gue nggak di rumah,”kataku pada Johan.

“Yah…keburu gue bilang lo ada, gimana sih!” tukas Johan, “emang kenapa?”

“Dia bilang gue tolol, siapa yang nggak khaki!” cetusku kesal.

Johan Cuma nyengir saja. Aku berjalan pelan menuju meja telepon. Biarin saja Donna lama menunggu. Emang enak?!

“Kenapa sih?” kataku judes tanpa berhalo lagi

“Hehehe….elo tuh marah tanpa sebab, tahu!” terdengar kekeh Donna yang nyaring, menyakiti kupingku.

“Emang lo pikir gue tolol!” semburku marah.

“Dengar, hunny, ah…susah deh ngomong sama elo,” Donna masih terkekeh, “itu kan semua bahasa gaul, non!”

“Maksud lo?” aku bingung.

“Ih….mulai besok, gue kasih elo catatan bahasa gaul, biar elo nggak kuper!” tandas Donna membuatku hampir meledak marah lagi. Kuper? Enak saja!

Aku baru saja masuk kelas ketika Donna menepuk bahuku.

”Nih, say, catatan gaul, mesti lo hapalin luar kepala!” Donna mencubit pipiku, ”sekarang gue cabut dulu ya, mau kencan...”

Aku menimpuk Donna dengan kertas kecil. Dasar Donna centil! Donna memang keren dan gaul sih, pacarnya aja gonta-ganti melulu, keren dan tajir lagi! Fff...aku teringat dua lembar keratas HVS dari Donna untukku. Astaga! Ini maksudnya kata-kata gaul! Koq ga ada asyik-asyiknya sih??

Aku menelusuri kata-kata gaul yang ditulis Donna dengan cepat. Mataku menangkap kata melacur.

”Oh....melacur itu artinya mau melakukan curhat ya,” gumamku geli. Hihi...pantas saja Donna tertawa, kukira dia mau melacur beneran....hahaha....

”Ya suw....oh..yah sudahlah, gitu,” gumamku.

LOL... laughing out loud (tertawa terbahak-bahak)! ROFL… Rolling on the floor laughing (tertawa terguling-guling di lantai) Hah! Jadi????

“Haha….gue kira lo ngatain gue tolol!” ujarku pada Donna ketika dia sudah duduk di dekatku.

“Makanya jadi anak gaul, biar nggak kuper!” cetus Donna membuat mataku melotot tajam padanya.

Tapi ternyata lama-lama asyik juga sih menggunakan bahasa gaul ini. Aku jadi pengen lekas menggunakan bahasa gaul hasil les privatku dari Donnam, bila mengirim pesan atau ngobrol bareng sohib-sohibku Uggh….aku kan juga pengen dibilang anak gaul donk!

“Anak SMP jaman sekarang pada sok gaul!” begitu kata abangku Johan, ketika aku mempraktekkan hasil belajar bahasa gaul ini.

“ABCD….aduh..bo’…capeeekk…deh!” balasku cuek.

“Duh…dibilangin tambah jadi deh,” bang Johan tampak gemas. Dicubitnya hidungku dengan keras.

“Uggh..PDA….plissss…deeeh..ahh!” teriakku kesal.

“Habisnya!” abangku yang memang gak gaul banget ini tambah geram.

“Dari pada kayak abang, suka BEJO!” seruku lalu berlari masuk ke kamar.
“Apaan!?” teriak Johan.

“Bengong Jorok! Huahahaaaa…!” aku tertawa keras sambil mengunci pintu kamar sebelum Johan menyusul dan mengacak rambutku.

Akhirnya aku benar-benar menikmati menjadi anak gaul. Hehe…lihatlah gayaku nggak cupu lagi! Ternyata bila kau tampik modis dan keren ditambah cara ngobrolmu yang gaul banget, tak akan sia-sia. Buktinya, Taufan, cowok kece, jago basket dan bintang Fisika di kelasku sepertinya sering mencuri pandang padaku.

“FYI (for your Information), Taufan dah makin lengket neh!”

Aku kirimkan SMSku itu pada Donna.

“Sumpeee Lo!”

Aku tersenyum menang melihat SMS sirik dari Donna. Ya iyalah, siapa sih nggak naksir Taufan. Semua anak cewek di kelasku selalu mencari perhatian bila ada Taufan. Tapi…tenang, aku tahu Taufan naksir aku. Buktinya, pagi tadi, tiba-tiba saja dia ngajak aku ngobrol di depan kelas. Agh…!

“PDA! Jangan sirik!” SMS balasanku.

“ABACDEFGHIJ (aduh boo.. Chapeee Deee Eke.. Fiuuhh Gubrakk!! Hii.. Jijay..” SMS Donna.

Aku balas : “LOL….lu pasti ngiri de..”

Balasan Donna : “NO WAY ”

Aku tertawa. Tiba-tiba aku teringat kalau Donna yang centil dan sok manja itu mengoleksi semua no HP teman-teman sekelas. Tentunya no ponsel Taufan pasti tak akan terlewatkan. Mmm..lebih baik aku telephone Donna neh.

“Don, bagi Nomornya Taufan dong,” kataku.

“Ah….elu, berjuang sendiri dong!” cetus Donna membuatku sebal.

“Ayolaah….”aku membujuknya.

Akhirnya setelah menghabiskan waktu sepuluh menit untuk memuji kecantikannya, kecentilannya, kemodisannya en ..en..semua-semua atribut tentang Donna yang huebbbat punya, yang terus terang membuat perutku mual, Donna menyebutkan sederet angka yang segera kucatat dengan tangan gemetar! Nomor ponsel Taufan tercinta!

Sekarang aku harus memutar otakku untuk menemukan kata-kata yang pantas untuk kukirim ke ponsel Taufan. Yah, jangan sampai tuh cowok menganggapku aneh saja! Seengak-enggaknya aku harus jual mahal dikit bo’! Fff..nanya soal Fisika kali yaa….Yap, biar gaya dan terlihat lebih cerdas!

“Sudah ngerjain PR Fisika belom ya?”

Deg deg an rasanya ketika SMS itu kukirim. Ugg…lagi apa ya Taufan sekarang? Cowok kece bermata bening itu membuat hatiku berdebar-debar mengingatnya. Yah…Taufan memang keren, badannya tinggi dengan kulit coklatnya membuatnya tampak menawan.

Tapi kok lama sih ngebalesnya ya? Aku menunggu dengan hati tak menentu. Tiba-tiba…ponselku bergetar. Ada Pesan. Dari Taufann?? Haaa…..

“Ini Yovita ? CMIIW (correct me if I wrong)”

Hah…Taufan gaul juga yak! Belum sempat aku membalas, masuk lagi SMS dari Taufan.

“udah dong….kamu? Yovita harus rajin belajar yaa..biar pinter n nggak cuma kece.”

Alamak! Aku hampir pingsan membacanya. Taufan bilang aku kece…??? Oh…Taufan…!! Segera kubalas SMS Taufan dengan kata-kata yang mulai lebih gaul dan berani. Ternyata Taufan juga anak gaul.

Rasanya aku tak sabar menceritakan kencanku di ponsel dengan Taufan pada Donna besok! Huahahaha…bisa mati berdiri kepanasan tuh cewek centil !
Pagi ini aku datang lebih pagi untuk mencegat Donna dan menemui si cowok kece ku tersayang, Taufan.

“Don, lu pasti nggak percaya deh,” bisikku pada Donna ketika dia baru saja masuk kelas, “Taufan bilang gue kece…OMG (Oh my God)!”

“Masa?” Donna mengulum senyum. Ugh…sirik kan?! "Yo…,”Donna sepertinya akan ngomong sesuatu tapi tidak jadi ketika sosok tubuh tinggi berambut cepak masuk ke kelas.

“Stt…, gue ke Taufan dulu ya,” kataku cepat meningalkan Donna yang melongo, bengong.

“Taufan……”kataku lembut dan mulai tersenyum yang paling manis, “sudah sarapan?”

Taufan menoleh dan memandangku bingung. Mmm…..pasti dia malu telah menggodaku kemarin.

“kamu kenapa sih?” tiba-tiba Taufan bertanya.

“Aghh…aku laper nih, Fan, makan yyyyuuukkkk….” Ujarku genit meniru cara Donna bila merayu cowok.

“Aku…aku..” Taufan terbata-bata. Uggh….baru segitu saja sudah salah tingkah dia!

“Fan, sini!” tiba-tia Jojo, sobat Taufan masuk ke kelas dan mengganggu kencanku dengan Taufan. Sebbbal!

“Aku keluar dulu ya,” kata Taufan padaku membuat mukaku panas dan menbelalak geram pada Jojo.

“Daagg….Yovi...” seru Jojo membuatku tambah kesal apalagi Taufan cuma diam saja melihatku jengkel.

“Huahahahaha…..” Donna terpingkal-pingkal melihatku.

Aku tambah mendelikkan mataku dengan tajam, gondok juga melihat kebahagiaan Donna diatas kesebalanku!

“Udah…udah…sekarang lihat PR Matematika dong?” ujar Donna.

“PR Matematika? Emang ada?” aku kaget.

“Ya ampun….cepetan bikin Yo, sebentar lagi bel masuk,” ujar Donna membuatku makin panik. Dengan cepat aku menyalin PR Matematika dari Donna. Tapi Bel masuk sudah berbunyi nyaring. OMG!

Pak Anton, guru Matematika yang terkenal killer masuk ke kelas dan langsung memerintahkan mengumpulkan buku PR. Aku ikut mengumpulkan PR ku yang belum selesai. Baru satu soal yang sempat aku salin.

“Yovita!” panggil pak Anton membuatku merinding.

“Ya pak..” aku menunduk dalam-dalam, malu plus takut. dan siap menerima hukuman.

“Coba lihat jawaban kamu? Apa ini!” Sembur pak Anton sambil buku PR Matematika yang ikut aku kumpulkan.

“Maaf Pak, saya lupa membuat PR,” kataku pelan.

“Ugh…lupa atau tak bisa?” sentak pak Anton membuat kelas makin hening dan membuat mukaku pasti tambah merah menahan malu. Dengan kasar Pak Anton membolak-balik buku PR ku.

“Coba apa ini? CMIIW, FYI, PDA….bla-bla..!” cetus Pak Anton membuatku kaget luar biasa. Astaga! Rupanya catatan bahasa gaul dari Donna terselip di buku PR ku.

“Itu…itu…” aku gelagapan. Terdengar suara cekikikan teman-temanku membuatku geram.

“Yah…sudah…sekarang kerjakan soal nomor dua ini di papan tulis!” ujar pak Anton.

Aku tergugu. Tiba-tiba otakku semakin buntu. Aku berpikir keras mengingat-ingat rumus matematika, tapi semakin aku berpikir semakin sakit kepalaku.

“Tidak bisa?” tanya pak Anton semakin sangar.

“Iya pak,” kataku semakin pelan.

“Sudah, kembali ke mejamu!” perintah pak Anton membuat lututku lemas, “gaul sih gaul, tapi tulalit!”

Seisi kelas riuh tertawa. Aku sudah hampir menangis saja. Ketika melewati meja Taufan, aku melihatnya cuma meringis saja, melihat aku, si anak gaul yang pasti tampak bodoh di matanya. Ugh!

“Stt…koq bisa lupa bikin PR sih?” tanya Donna ketika aku sudah duduk di sebelahnya.

“Kemarin aku sibuk ber “SMS gaul” sama Taufan, “kataku kecut.

“Taufan?!” Donna kaget, “masa sih Yo, sama Jojo kali….”

“Maksud lo?” aku bingung.

“Nomor yang aku kasih kan nomor Jojo, dia kan naksir kamu. Nomor hp kamu udah lama dimintanya” bisik Donna menahan senyum, “hehe….gue mana punya nomor si Taufan! Cowok dingin gitu!”

“Yang benar aja Don?!? Jadi?!” aku melotot

“Hehehe…”

“Sialan!” aku menjerit tak sadar.

“Yovita!” terdengar suara pak Anton menggelegar membuatku ciut, “keluar kelas sekarang, berdiri di halaman sekolah sampai jam pelajaran Matematika usai!”

“Tapi pak?” suaraku kelu.

“Keluar!”

“Ih…kalo gaul tapi tulalit sama aja cupu!” kudengar sindiran Melani, cewek jutek yang duduk di belakang Jojo.

Teman-temanku tertawa lagi mendengar sindiran Melani. Dan taufan? Astaga, mulutnya terbuka lebar, dia..dia…juga menertawakan kemalanganku?! Kakiku jadi tambah lemas selemas agar-agar!

Wednesday, February 21, 2007

CINTA YANG BERMAKNA

Aku memanggilnya cinta karena bagiku dia bagian dari jiwa walau baginya cinta tak bernama dan bermakna.

Pagi yang putih dan basah.

Kata bunda pagi adalah harapan. Sebagai penentu putaran hari. Bila pagi kau rengkuh dengan hati terkembang, kelak impian yang menari-nari di benakmu akan kau raih. Dan kau akan menikmati harimu sampai saatnya matamu terpejam dalam belaian rembulan. Tapi bagiku pagi adalah ratapan. Sebuah sensasi rasa yang cukup menyakitkan dan sanggup menyedot segala tenagaku hingga tak bersisa sampai aku kembali ke peraduan, untuk sekedar menyembunyikan pedih sebentar dan berharap aku bahagia, walau itu dalam mimpi.

Seperti pagi ini. Bau rumput basah membaui indera penciuamanku ketika aku membuka jendela kamarku lebar-lebar. Mestinya itu terasa segar. Tapi tidak bagiku. Hawa dingin yang ditebarkan angin pagi justru membuat sakit persendianku. Begitu menusuk.

Bunda mengetuk kamarku dan sebentar lagi muka cantik dan bermata sendu itu akan melongok dari balik pintu untuk memastikan apa aku sudah bangun. Benar bukan? Tidak sampai sepuluh detik pintu kamarku terkuak dan aku langsung bisa menikmati senyum indah bunda. Untuk beberapa saat hatiku terhibur.

”Ayo mandi Kayla, dengan mandi putri kecilku pasti semakin cantik,” bunda melempar handuk ke bahuku dan menjawil hidungku.

Aku tersenyum. Demi bunda aku harus selalu ceria. Oh bunda tak pernah berubah. Masih putri kecilnya bundakah aku? Aku sudah besar bunda, sudah kelas III SMU, badanku pun sudah lebih tinggi dari bunda, sudah kenal cinta dan tahu rasanya sakit dari luka yang menganga di hati.

”Tuh kan pagi-pagi sudah bengong, mau jadi apa kalo bawaannya males begini!” hardik bunda.

Sebelum celoteh cerewet bunda lebih beruntun, aku segera masuk ke kamar mandi. Bukan untuk mandi, tapi menangis.

”Vin, plis, aku ingin ketemu,” kataku memelas.

Setelah mencoba puluhan kali, akhirnya aku berhasil menghubungi Handphone Kevin, pacarku.

”Maaf Kayla, aku sedang tidak di Jakarta, aku di Surabaya.”

”Kamu jangan bohong Vin, aku tahu kamu di sini. Rio bilang hari ini kamu sekolah!” sentakku gusar.

”Eh kenapa sih kamu nyari-nyari aku! Udah, jangan ganggu aku lagi Kay!” bentak Kevin membuat hatiku panas.

”Aku pacar kamu Vin, nggak layak kamu bentak-bentak begitu!” Aku berang.
Hening sejenak.

”Kita sudah putus Kay,” kata Kevin kejam sekali dan sangat menyakiti hatiku.

”Nggak bisa begitu Vin, kamu....” kata-kataku nyangkut di tenggorokan.

”Maafin aku Kay, aku kan sudah bilang kalau aku tidak serius dengan kamu. Ketika sama kamu aku sedang berantem dengan Nola. Dan sekarang aku sadar aku masih mencintai Nola.”

”Kamu jahat Vin! Lalu yang kemarin-kemarin kamu anggap apa hah?! Kamu jahat Vin, aku nggak akan melepas kamu begitu saja! Tega kamu, aku....!” Aku tercekat, air mata membasahi ponselku.

Klik. Kevin memutuskan hubungan.

”Kelvin.....!!!!!”

Aku histeris.

”Kayla, kamu kenapa? Aku cari kemana-mana rupanya kamu di sini,” sahabatku Sonya memandang bingung padaku.

Aku diam dan menurut saja ketika Sonya memapahku duduk di bangku yang ada di taman sekolah.

”Cerita sama aku Kay, kamu ada masalah apa?” tanya Sonya.

Aku menengadahkan mukaku menatap gumpalan awan, berharap pedihku membumbung tinggi bersama awan yang berarak.

”Kevin....” dan isakku pecah di bahu Sonya.
******

Aku tak pernah menyangka aku akan jatuh cinta padanya. Tentu saja bukan karena dia tidak menarik. Dia malah sangat menarik. Siapa sih tak akan kepincut dengan tubuh jangkungnya yang berisi seorang bintang basket di sekolahnya? Rupanya sungguh rupawan, putih bersih dan terlihat begitu laki-laki. Matanya nakal dan menusuk tajam siapapun yang dipandangi olehnya. Dan aku pun, si gunung es meleleh ketika dia bilang aku sungguh menarik hatinya.

Aku mengenalnya setahun yang lalu ketika ada pertandingan basket persahabatan antara SMU Nusantara, sekolahku dengan SMU Merah Putih, sekolahnya Kevin. Penampilannya yang piawai dalam memainkan bola ditunjang dengan fisik yang menawan dia cepat mencuri hati anak-anak cewek di sekolahku dan berlomba-lomba cari perhatian padanya untuk sekedar mendapatkan balasan pesona senyum darinya. Cuma aku yang memandanginya dari jauh, walu kuakui dia pantas menjadi idola.

”Kamu tidak tertarik padanya heh?” tanya Rio. Rio itu sahabatku di Sekolah Dasar dan aku bertemu lagi padanya hari itu karena dia pun sebagai anggota tim basket yang memperkuat SMU Merah Putih. Saat itu kami sedang makan di kantin sekolah usai pertandingan selesai yang dimenangkan oleh Tim dari SMU Merah Putih.

Mukaku memerah. Aku tahu dia tampan, tapi aku tidak seperti yang lain yang bisa dan mau memamerkan perasaan seluwes-luwesnya.

”Nanti aku kenalin dia sama kamu, Kay” Rio berinisiatif.

Aku mendelik. Apa-apan sih Rio, bikin malu aja! Tapi pandanganku terus menangkap sosok yang duduk di pojokan kantin yang tampak kewalahan meladeni para fans yang ingin berkenalan dengannya.

Rupanya Rio sungguh-sungguh dengan ucapannya. Ketika mau keluar dari gerbang sekolah, langkahku dicegat oleh panggilan Rio. Dan hatiku berdesir melihat siapa yang berjalan ke arahku di belakang Rio. Sepasang mata itu langsung menikam hatiku. Dan senyumnya tak pernah terlupakan berhari-hari setelah perkenalan aku dengannya. Sampai Rio datang ke rumahku dan membawa kabar yang bikin aku melambung tinggi.

”Kevin naksir kamu, Kay. Katanya dia kangen nih,” Rio to the point aja ketika aku menyilahkan dia masuk ke dalam.

“jangan becanda ah,” cetusku lalu menarik tangan Rio.
“Aku nggak bercanda Kay, aku kangen.”

Aku membalikan badan dan sungguh tak bisa berkata-kata ketika menyadari tiba-tiba Kevin sudah berdiri di depanku. Aku memandang Kevin lekat-lekat. Rambutnya yang ikal tampak berantakan ditiup angin nakal. Penampilannya pun seadanya aja. Hanya berbalut jeans belel dan kaos biru polos yang dipadukan dengan jacket jeans. Tapi dia terlihat begitu keren di mataku. Oh Tuhan, aku pun jatuh cinta padanya.

Betapa bewarnanya hari-hariku kemudian bersamanya. Aku merasa aku gadis delapan belas tahun yang paling beruntung. Tak aku pedulikan bisik-bisik teman yang iri pada keberuntunganku. Kevin memang pandai memperlakukan aku layaknya seorang putri. Kata-katanya yang lembut, perlakuannya yang romantis dan harapan-harapan yang dia bisikkan untukku. Lengkap sudah kebahagiaan seorang Kayla yang belum pernah mengenal apa arti cinta sebelumnya.
**********

Di depan kelas Pak Rahmat tampak serius menjelaskan pelajaran Fisika. Tapi aku tak peduli. Aku sibuk mencet-mencet tombol ponselku. Tapi nomor yang kutuju tidak dapat dihubungi. Aku sudah sedemikian frustasi mencari Kevin. Sudah satu bulan Kevin menghilang dariku.

”Kata orang di rumahnya dia di mana sih?” tanya Sonya ikutan gusar.
Aku menggelengkan kepala dan mendesah yang keseratus kali ketika SMS masuk ke ponselku. Nomor tak dikenal tapi isinya membuat harga diriku terbanting : Kamu murahan amat sih Kay. Aku tidak pernah menyukai kamu apa lagi mencintai kamu. Jangan ganggu aku lagi. Kevin.

”Brengsek banget tuh anak!” desis Sonya marah.

Hatiku tersayat. Tiba-tiba perutku terasa sakit sekali. Aku sudah tak sanggup lagi. Kepalaku berputar dan aku tak ingat apa-apa lagi.

Bunda menangis sesenggukan memelukku. Aku diam tak bergeming. Perutku sudah tidak sakit lagi tapi luka di hatiku masih mengoreng.

”Kenapa jadi begini Kay?” tanya bunda pilu.

Aku diam dan tak mampu menjawab. Ingatanku melayang ke hari yang sangat kusesali, tiga bulan yang lalu.

Sore Sabtu itu seperti biasa Kevin menjemputku di tempat Les bahasa Mandarin. Kami berencana nonton di Plaza Senayan.

”Kamu sudah pamit sama bunda, Kay?’ tanya Kevin lembut.

Aku tersenyum manis padanya. Tentu saja tak usah pamit sama bunda hari ini karena bunda sedang ke Pontianak sampai lusa. Sepanjang sore dan malam kami pun menghabiskan waktu dengan gembira. Pukul 09 malam, Kevin mengantarku pulang. Cuma ada aku dan Kevin malam itu. Dan entah karena cintaku padanya aku menurut saja ketika dia membujukku untuk melewatkan malam panajng bersamanya.

”Ayolah Kay, semua teman-teman kita pernah melakukannya. Kamu tidak mau dibilang nggak gaul kan?”

Tadinya aku ragu. Tapi dekapan Kevin di bahuku membuatku luruh. Dan malam itu setelah semuanya terjadi, aku cuma bisa menangis terisak-isak menyesali apa yang telah aku lakukan dengan Kevin. Tapi Kevin merengkuhku dan membujukku kalau itulah artinya cinta dan dia berjanji akan selalu bersamaku apa pun yang terjadi.

Rekaman kejadian tiga bulan yang lalu membuatku marah. Tapi yang paling menyakitkan ketika lebih kurang satu bulan yang lalu aku cerita dengan Kevin kalau aku sudah dua bulan tidak mendapat haid. Aku bilang aku takut kalau aku hamil padanya. Tapi Kevin malah marah-marah dan menuduhku mau menjeratnya. Hari itu kami bertengkar dan itulah kali terakhir aku bertemu dengannya.

Di sampingku bunda masih terisak. Kenyataan kalau putri kecilnya telah hamil tiga bulan membuatnya schock. Tapi aku tak ingin menangis lagi. Aku tak ingin terjadi apa-apa dengan kandunganku. Aku harus kuat demi bunda dan untuk cinta yang ada di rahimku.
*********

Aku memandangi ikan mas di kolam ikan yang berada di sudut taman rumah oma. Begitu tenang setenang hatiku kini.

”bunda,” seorang anak kecil usia tiga tahun memanggilku.

Aku melambaikan tangan padanya.

”Bunda , Ayin kangen bunda,” katanya polos.

Aku tersenyum dan memeluk Erin, anak yang kulahirkan tiga tahun yang lalu.

”Tapi nanti setelah bunda tamat sekolah tahun ini ya,” aku berjanji padanya.

Sang malaikat kecil di depanku bersorak gembira.
Aku tergugu. Setelah kejadian itu, setelah tahu aku hamil, bunda telah menitipkan aku sama oma di Pontianak. Dua tahun aku cuti sekolah dan menarik diri dari luar rumah. Kini tahun ketiga aku telah menata keberanian dan percaya diriku lagi dan sebentar lagi aku lulus SMA. Aku sudah bilang sama bunda kalau aku akan kembali ke Jakarta, aku ingin kuliah dan meraih masa depanku sendiri demi cinta yang bernama Erin dan menjaganya agar dia kelak tumbuh menjadi gadis kecil yang periang dan membimbingnya menjalani hari-harinya sampai dewasa menjelang.

Mataku menatap langit luas mencoba menembus tampa batas. Pun sampai hari ini aku tak bisa melupakan Kevin. Yah Aku pun tetap memanggilnya cinta karena bagiku dia bagian dari jiwa walau baginya cinta tak bernama dan bermakna.
*********

CINTA UNTUK ROMEO

Sebuah cerpen dari Dewi Cendika ZR

Malam yang berangin dan berhembus halus setelah hampir satu jam ditumpahi gemuruh ritmis air yang jatuh dari langit. Kulemparkan pandang dari balik jendela kamar yang kubiarkan terbuka. Gelap saja, tak bewarna kecuali sinar keemasan yang terpantul dari beberapa lampu yang menyala di luar sana, juga dari sebuah balkon kamar tepat diseberang kamarku

Samudera pikirku membumbung tinggi membawa sekelebat gundah yang kini teronggok di sudut hatiku. Ahh....aku mendesah pendek, ada apa ini? Kemana ceriaku perginya? Aku tak bersemangat, persendianku lemas, kepalaku pusing. Dan ini semua hanya karena........

Di kantin sekolah siang tadi

Aku sedang menikmati martabak kentangku yang ke tiga. Ssssshhh.....pedas! Berani-beraninya sih mencoba cabe rawit, biar kecil tapi menggigit! Di depanku Indri terkikik geli (pasti senang, batinku kesal). Tapi hei... di sebelahku, Yovita, tetap asyik dengan lamunannya.

”Mmm....yang lagi jatuh cinta,” ledek Indri pada Yovita.

Yovita tersenyum tipis lalu matanya menerawang ke langit-langit kantin. Lho, emang jatuh cinta sama siapa?

”Koq aku nggak dikasih tahu sih?” aku bingung campur keki.

”Yang rapat OSIS melulu siapa?” Indri yang balik nanya.

Mataku mendelik ke Indri sekilas sebelum beralih ke muka melankolisnya Yovita.
”Ah, aku tahu, akhirnya kamu naksir juga sama Dani kan?” tebakku yakin, tentu saja benar, karena sudah satu bulan ini Dani nempel terus sama Yovita dan si lembut Yovita pun kelihatannya juga suka sama Dani.

”Salah besar!” lagi-lagi Indri yang bawel menyergah dengan cengiran.

”Terus sama siapa dong? Sama pak Gerund?” ledekku mulai tak sabar. Pak Gerund itu julukan untuk pak Didi, guru Bahasa Inggris kami, karena sebelum memulai pelajaran selalu aja membahas formula Gerund terlebih dahulu walaupun sebentar. Dan bapak guru yang berambut keriting itu sangat berbaik hati sama Yovita yang pintar bahasa Inggris.

Dua bola mata Yovita melotot tapi aku puas membuatnya sedikit kesal. Abisnya aku kan juga sahabatnya, kok cuma Indri yang dikasih tahu.

”Okey...okey...Yovita sedang falling in love with.....Romeo!” Indri mengerlingkan matanya padaku.

”Romeo????!!!!” Suaraku terlontar keras. Terkejut dan tak mungkin menebaknya.
”Romeo yang kelas dua satu? Yang tetanggaku itu?”

”Aduh...ngomongnya yang pelan dong Re!” sungut Yovita padaku.

”Emang ada berapa Romeo sih di SMA kita?” tukas Indri.

”Re, menurutmu dia baik tidak?” tanya Yovita.

Aku tercekat. Tenggorokanku kering, aku tak bisa berkata-kata.

Angin nakal menyisiri wajahku dengan membawa rekaman tadi siang dan mengacaukan benakku. Angin yang malang, belaiannya tak mampu menghalau galau di hatiku. Aaku benar-benar sekarat. Oh, separah itu kah bila orang sedang.............

Jatuh cinta. Ya, aku telah bermain-main dengan rasa itu. Rasa yang membuat kau menjadi panas dingin bila menyebut namanya, rasa yang melenyapkan kata-kata indahmu bila kau kebetulan berpapasan dengannya padahal ratusan koleksi kata-kata romantis nan puitis telah kau hapal luar kepala, rasa yang memaksa jantungmu meloncat-loncat kencang dengan degup yang akan terdengar dari jarak satu meter bila tiba-tiba dia menegurmu, rasa yang menyesaki duniamu dengan bayangan wajahnya disetiap inci ruang hatimu.

Yah... aku jatuh cinta dan kini lihatlah duniaku telah bewarna! Ada pria yang aku pedulikan, ada sosok yang aku rindukan, ada rasa yang telah lama aku impikan! Tapi salahkah bila ”dia” yang kupilih? Oh tidak, bukan aku yang memilihnya, justru cinta itu datang tanpa pernah aku undang dan aku tak bisa, tepatnya tak mau mengelak kehadirannya.

Bukankah cinta juga bukanlah hal yang melanggar? Lalu apa yang salah? Dia juga bukan milik siapa-siapa (punya ortunya tentu saja!) tapi maksudku, dia kan belum punya pacar (aku yakin dugaanku tidak melesat!) so siapapun boleh menyukainya. Tapi...... Oh Tuhan...kenapa justru Yovita, sahabatku tersayang itu pun harus terjebak rasa juga dengan orang yang sama, pada Romeo!

Yovita...Yovita.....tahu nggak sih kamu, kalau kau hanya menghabiskan energi saja suka sama Romeo, waktumu pun terbuang percuma. Percaya sama aku, kau akan sakit hati nanti! Yo, aku kasih tahu ya, kakak kelas yang kau suka setengah mati itu (aku nggak gede rasa lho ) telah menambatkan hatinya padaku.
Well....silahkan pikir, apa maksudnya bila dia selalu berbaik hati padaku, rela dan begitu antusias (kalau nggak bisa aku bilangin ”bernafsu”) menemani aku jalan-jalan di toko buku dan mencari aksesoris cantik di mall, menjelajahi setiap setiap ruas jalan, bercanda di pojokan-pojokan kafe, dan yang paling penting dia, si Romeo tercinta selalu melewatkan malam minggunya bersama aku karena dia tidak mau aku merasa kesepian tanpa seorang pacar.

Ruang pandangku menangkap kaca jendela yang tertutup tirai di seberang kamarku. Kutajamkan mataku mencoba menembus kaca, percuma, tirai itu terlalu rapat dan aku tidak bisa melihat apa pun kecuali garis-garis horizantal yang menghiasi tirai jendela itu. Kemana ya sosok yang selalu berdiri di balik jendela kamarnya itu? Kulirik jam bulat bewarna biru yang terpasang di dinding kamar. Tujuh lewat tiga puluh menit.

Blib...Blib..... CDMA ku memanggil. Romeo Calling tertera di layar ponsel.

”Kamu koq ....,” ngambekku terputus oleh suara Romeo, yang mesra seperti biasa,
”hallo putri cantik, balik ke tempat semula, aku dataaaanggg......”

Huh.....aku merengut tapi tersenyum bahagia. Jendela kamar di seberang kamarku terkuak memunculkan wajah tampan sang pangeran impian yang tersenyum dan melambaikan tangan padaku.

”Romeo...”bisikku mesra dengan jantung berakrobat tak karuan. Dan kami pun saling berpandangan dengan berbisik melalui handphone seperti malam-malam kemarin. Berdua saja, tak ada siapa pun, apa lagi Yovita!

Sudah aku putuskan aku harus memberi tahu Yovita. Tentu saja, aku tak akan membocorkan kebersamaan aku dengan Romeo. Cukup aku katakan kalau Romeo tidak menyukai Yovita karena sudah ada gadis lain yang disayanginya. Ah...Yovita pasti tersakiti hatinya, tapi artinya aku telah menyelamatkan seorang sahabat sebelum rasa itu menelannya dalam pusaran cinta yang mematikan.

Saat yang tepat adalah siang ini. Aku mengundang Yovita untuk main ke rumahku jam tiga. Sendiri saja tanpa Indri. Yap... nanti aku akan menjelaskan pada Indri kalau dia tahu dan marah padaku.

Yovita datang jam empat. Huh.....ini anak hobbynya nggak kapok-kapok, molor melulu! Muka yang cantik itu menyembul dari balik daun pintu kamarku, tertawa girang. Owww... aku ragu-ragu, rasanya jadi tak sanggup untuk memberitahukan hal ini padanya. Oh Tuhan, tolong aku, aku harus bilang apa pada sahabatku yang super sensitif ini?

”Mmm.....makasih loh Re aku disuruh ke sini,” katanya nyengir.

Aku mendelik. Perasaan dia kan sering main ke rumahku, masa basa-basi terma kasih segala!

”Tapi ada apa sih kok serius gitu, sampai Indri nggak boleh tahu?” tanyanya.

Aku meneguk ludahku. Bimbang.

”Romeo....” kataku akhirnya sambil memejamkan mata dan menghimpun ketegaan rasa.

”Ohya? Jadi kau sudah memberitahunya ya? Tentu saja kau sahabatku yang paling baik,” Yovita girang bukan main, matanya bersinar penuh harap. ”Dia memang suka sama aku,Re.”

Ampun....!!! aku jadi tak tega. Masa sih aku harus mematahkan semangat cintanya Yovita???

”Gini Yo, aku tahu ini menyakitkan. Tapi kau harus tahu, Ada gadis lain yang dicintai oleh Romeo. Aku mengenal gadis itu, tapi maaf aku tak bisa bilang padamu siapa dia. Yang jelas dia.... dia.... tak suka padamu.”

Plong. Hatiku lega tapi hatiku tercubit melihat binar harap mata di depanku redup.

”Benarkah itu Re? Jadi...jadi....dia....? katanya....,” Yovita terpaku. Kristal bening bergulir di pipinya.

Aku memeluk Yovita. Andai kau tahu Yo, bisikku lirih, dalam hati saja.
*************
Minggu pagi yang bergairah. Dunia pun tersenyum bahagia. Lihat saja bunga-bunga di taman, merekah dan segar. Sepeti aku. Hoho....tentu saja, Romeo tadi telepon dia akan ke rumahku pagi ini. Hah....padahal semalam aku kecewa karena Romeo tak datang seperti sabtu-sabtu malam yang telah lewat.

”Halo Areta.” Itu....itu... yang berjalan ke arahku bukan pangeran bukan? Dengan celana Jeans, muscle t-shirt ditumpuk jaket dai sungguh mempesona.

”Eh...duduk Romeo.” Aduh.... kenapa aku harus jadi grogi. Ini pasti karena pengaruh kata-katanya di telepon tadi :Ada hal penting yang aku ingin bicarakan dengan kamu,Re.

Kami duduk berhadap-hadapan. Aku tambah salah tingkah. Aku takut tampak buruk di matanya. Kujelajahi tubuhku yang terbalut t-shirt garis-garis ditumpuk t-shirt V-Neck dengan rok lipat. Oh...aku pasti cantik dimata Romeo. Aku berusaha percaya diri dan mencoba tersenyum untuk menebarkan pesonaku padanya.

”Jangan marah ya Re kalau aku nanya sama kamu,” Romeo menatapku. Aduh mama....hatiku terpanah!

”Iya, apa sih?” aku tak sabar. Aduh... apa yang harus aku jawab ya bila dia minta jawaban sekarang dari pertanyaan : Areta, aku jatuh cinta padamu, maukah kau jadi pacarku? Rangkaian kemungkinan-kemungkinan berloncatan di kepalaku dan mukaku memerah.

Aku mengangguk mantap. Cepatlah Romeo, katakan itu padaku.

”Nggg...,” Romeo garuk-garuk kepala. Aduh kenapa harus malu sih Romeo, percayalah, aku pasti menerima cintamu!

”Gini loh Re...aku...” tuh Romeo pakai tersendat-sendat gitu. Tiba-tiba aku teringat Yovita. Aduh, Romeo, cepat katakan, sebelum nanti aku berubah pikiran. Tahukah kau kalau ada sahabatku yang terluka karena mencintaimu?
Romeo beringsut pelan dan kini duduk disampingku. Tangannya meraih jemariku dan menggenggamnya dan aku sudah mau pingsan saja oleh letupan letupan di dadaku. Yovita, maaf....maafkaan aku....

”Gini Re, kau bilang pada Yovita, kalau aku sudah punya pacar? Betulkah? Sepertinya aku tak pernah cerita padamu?” tanya Romeo. Aku mengernyitkan dahi? ”Re, maaf ya kalau aku tak memeberi tahu kamu. Kemarin malam aku nembak Yovita. Aku telah lama naksir sahabatmu itu. Sering aku perhatikan dia sedang ngobrol sama kamu dari balik jendela kamar. Rasa itu aku simpan saja karena aku malu sama kamu. Tapi ketika aku berpapasan dengan Yovita di depan rumahmu hari Jumat kemarin, aku yakin aku tidak bisa memendamnya lebih lama. Dan sepertinya Yovita juga menyukaiku, dari sorot matanya aku tahu itu. Tapi Yovita menolakku, alasannya lucu banget, dia bilang aku sudah punya pacar dan dia percaya karena kau yang memberi tahu. Aku bingung Re. Aku kan tidak punya pacar, kau tahu itu kan? Aku minta bantuanmu sekarang, tolong katakan padanya kalau itu tidak benar, aku ingin dia menerima cintaku tanpa rasa curiga.”

Kata-kata Romeo seperti petasan yang meledak di kepalaku. Dadaku serasa dipukul sebongkah batu keras. Sakit dan berdarah. Aku terluka. Mataku nanar menatap Rromeo. Oh...dunia, menangislah untukku. Bunga-bunga di taman tertunduk lesu, daun-daun gugur putus asa dan lihatlah langit pun teriris, mengalirkan riak tangis pilu pada pagi hari Minggu ini.
...................