Malam yang berangin dan berhembus halus setelah hampir satu jam ditumpahi gemuruh ritmis air yang jatuh dari langit. Kulemparkan pandang dari balik jendela kamar yang kubiarkan terbuka. Gelap saja, tak bewarna kecuali sinar keemasan yang terpantul dari beberapa lampu yang menyala di luar sana, juga dari sebuah balkon kamar tepat diseberang kamarku
Samudera pikirku membumbung tinggi membawa sekelebat gundah yang kini teronggok di sudut hatiku. Ahh....aku mendesah pendek, ada apa ini? Kemana ceriaku perginya? Aku tak bersemangat, persendianku lemas, kepalaku pusing. Dan ini semua hanya karena........
Di kantin sekolah siang tadi
Aku sedang menikmati martabak kentangku yang ke tiga. Ssssshhh.....pedas! Berani-beraninya sih mencoba cabe rawit, biar kecil tapi menggigit! Di depanku Indri terkikik geli (pasti senang, batinku kesal). Tapi hei... di sebelahku, Yovita, tetap asyik dengan lamunannya.
”Mmm....yang lagi jatuh cinta,” ledek Indri pada Yovita.
Yovita tersenyum tipis lalu matanya menerawang ke langit-langit kantin. Lho, emang jatuh cinta sama siapa?
”Koq aku nggak dikasih tahu sih?” aku bingung campur keki.
”Yang rapat OSIS melulu siapa?” Indri yang balik nanya.
Mataku mendelik ke Indri sekilas sebelum beralih ke muka melankolisnya Yovita.
”Ah, aku tahu, akhirnya kamu naksir juga sama Dani kan?” tebakku yakin, tentu saja benar, karena sudah satu bulan ini Dani nempel terus sama Yovita dan si lembut Yovita pun kelihatannya juga suka sama Dani.
”Salah besar!” lagi-lagi Indri yang bawel menyergah dengan cengiran.
”Terus sama siapa dong? Sama pak Gerund?” ledekku mulai tak sabar. Pak Gerund itu julukan untuk pak Didi, guru Bahasa Inggris kami, karena sebelum memulai pelajaran selalu aja membahas formula Gerund terlebih dahulu walaupun sebentar. Dan bapak guru yang berambut keriting itu sangat berbaik hati sama Yovita yang pintar bahasa Inggris.
Dua bola mata Yovita melotot tapi aku puas membuatnya sedikit kesal. Abisnya aku kan juga sahabatnya, kok cuma Indri yang dikasih tahu.
”Okey...okey...Yovita sedang falling in love with.....Romeo!” Indri mengerlingkan matanya padaku.
”Romeo????!!!!” Suaraku terlontar keras. Terkejut dan tak mungkin menebaknya.
”Romeo yang kelas dua satu? Yang tetanggaku itu?”
”Aduh...ngomongnya yang pelan dong Re!” sungut Yovita padaku.
”Emang ada berapa Romeo sih di SMA kita?” tukas Indri.
”Re, menurutmu dia baik tidak?” tanya Yovita.
Aku tercekat. Tenggorokanku kering, aku tak bisa berkata-kata.
Angin nakal menyisiri wajahku dengan membawa rekaman tadi siang dan mengacaukan benakku. Angin yang malang, belaiannya tak mampu menghalau galau di hatiku. Aaku benar-benar sekarat. Oh, separah itu kah bila orang sedang.............
Jatuh cinta. Ya, aku telah bermain-main dengan rasa itu. Rasa yang membuat kau menjadi panas dingin bila menyebut namanya, rasa yang melenyapkan kata-kata indahmu bila kau kebetulan berpapasan dengannya padahal ratusan koleksi kata-kata romantis nan puitis telah kau hapal luar kepala, rasa yang memaksa jantungmu meloncat-loncat kencang dengan degup yang akan terdengar dari jarak satu meter bila tiba-tiba dia menegurmu, rasa yang menyesaki duniamu dengan bayangan wajahnya disetiap inci ruang hatimu.
Yah... aku jatuh cinta dan kini lihatlah duniaku telah bewarna! Ada pria yang aku pedulikan, ada sosok yang aku rindukan, ada rasa yang telah lama aku impikan! Tapi salahkah bila ”dia” yang kupilih? Oh tidak, bukan aku yang memilihnya, justru cinta itu datang tanpa pernah aku undang dan aku tak bisa, tepatnya tak mau mengelak kehadirannya.
Bukankah cinta juga bukanlah hal yang melanggar? Lalu apa yang salah? Dia juga bukan milik siapa-siapa (punya ortunya tentu saja!) tapi maksudku, dia kan belum punya pacar (aku yakin dugaanku tidak melesat!) so siapapun boleh menyukainya. Tapi...... Oh Tuhan...kenapa justru Yovita, sahabatku tersayang itu pun harus terjebak rasa juga dengan orang yang sama, pada Romeo!
Yovita...Yovita.....tahu nggak sih kamu, kalau kau hanya menghabiskan energi saja suka sama Romeo, waktumu pun terbuang percuma. Percaya sama aku, kau akan sakit hati nanti! Yo, aku kasih tahu ya, kakak kelas yang kau suka setengah mati itu (aku nggak gede rasa lho ) telah menambatkan hatinya padaku.
Well....silahkan pikir, apa maksudnya bila dia selalu berbaik hati padaku, rela dan begitu antusias (kalau nggak bisa aku bilangin ”bernafsu”) menemani aku jalan-jalan di toko buku dan mencari aksesoris cantik di mall, menjelajahi setiap setiap ruas jalan, bercanda di pojokan-pojokan kafe, dan yang paling penting dia, si Romeo tercinta selalu melewatkan malam minggunya bersama aku karena dia tidak mau aku merasa kesepian tanpa seorang pacar.
Ruang pandangku menangkap kaca jendela yang tertutup tirai di seberang kamarku. Kutajamkan mataku mencoba menembus kaca, percuma, tirai itu terlalu rapat dan aku tidak bisa melihat apa pun kecuali garis-garis horizantal yang menghiasi tirai jendela itu. Kemana ya sosok yang selalu berdiri di balik jendela kamarnya itu? Kulirik jam bulat bewarna biru yang terpasang di dinding kamar. Tujuh lewat tiga puluh menit.
Blib...Blib..... CDMA ku memanggil. Romeo Calling tertera di layar ponsel.
”Kamu koq ....,” ngambekku terputus oleh suara Romeo, yang mesra seperti biasa,
”hallo putri cantik, balik ke tempat semula, aku dataaaanggg......”
Huh.....aku merengut tapi tersenyum bahagia. Jendela kamar di seberang kamarku terkuak memunculkan wajah tampan sang pangeran impian yang tersenyum dan melambaikan tangan padaku.
”Romeo...”bisikku mesra dengan jantung berakrobat tak karuan. Dan kami pun saling berpandangan dengan berbisik melalui handphone seperti malam-malam kemarin. Berdua saja, tak ada siapa pun, apa lagi Yovita!
Sudah aku putuskan aku harus memberi tahu Yovita. Tentu saja, aku tak akan membocorkan kebersamaan aku dengan Romeo. Cukup aku katakan kalau Romeo tidak menyukai Yovita karena sudah ada gadis lain yang disayanginya. Ah...Yovita pasti tersakiti hatinya, tapi artinya aku telah menyelamatkan seorang sahabat sebelum rasa itu menelannya dalam pusaran cinta yang mematikan.
Saat yang tepat adalah siang ini. Aku mengundang Yovita untuk main ke rumahku jam tiga. Sendiri saja tanpa Indri. Yap... nanti aku akan menjelaskan pada Indri kalau dia tahu dan marah padaku.
Yovita datang jam empat. Huh.....ini anak hobbynya nggak kapok-kapok, molor melulu! Muka yang cantik itu menyembul dari balik daun pintu kamarku, tertawa girang. Owww... aku ragu-ragu, rasanya jadi tak sanggup untuk memberitahukan hal ini padanya. Oh Tuhan, tolong aku, aku harus bilang apa pada sahabatku yang super sensitif ini?
”Mmm.....makasih loh Re aku disuruh ke sini,” katanya nyengir.
Aku mendelik. Perasaan dia kan sering main ke rumahku, masa basa-basi terma kasih segala!
”Tapi ada apa sih kok serius gitu, sampai Indri nggak boleh tahu?” tanyanya.
Aku meneguk ludahku. Bimbang.
”Romeo....” kataku akhirnya sambil memejamkan mata dan menghimpun ketegaan rasa.
”Ohya? Jadi kau sudah memberitahunya ya? Tentu saja kau sahabatku yang paling baik,” Yovita girang bukan main, matanya bersinar penuh harap. ”Dia memang suka sama aku,Re.”
Ampun....!!! aku jadi tak tega. Masa sih aku harus mematahkan semangat cintanya Yovita???
”Gini Yo, aku tahu ini menyakitkan. Tapi kau harus tahu, Ada gadis lain yang dicintai oleh Romeo. Aku mengenal gadis itu, tapi maaf aku tak bisa bilang padamu siapa dia. Yang jelas dia.... dia.... tak suka padamu.”
Plong. Hatiku lega tapi hatiku tercubit melihat binar harap mata di depanku redup.
”Benarkah itu Re? Jadi...jadi....dia....? katanya....,” Yovita terpaku. Kristal bening bergulir di pipinya.
Aku memeluk Yovita. Andai kau tahu Yo, bisikku lirih, dalam hati saja.
*************
Minggu pagi yang bergairah. Dunia pun tersenyum bahagia. Lihat saja bunga-bunga di taman, merekah dan segar. Sepeti aku. Hoho....tentu saja, Romeo tadi telepon dia akan ke rumahku pagi ini. Hah....padahal semalam aku kecewa karena Romeo tak datang seperti sabtu-sabtu malam yang telah lewat.
”Halo Areta.” Itu....itu... yang berjalan ke arahku bukan pangeran bukan? Dengan celana Jeans, muscle t-shirt ditumpuk jaket dai sungguh mempesona.
”Eh...duduk Romeo.” Aduh.... kenapa aku harus jadi grogi. Ini pasti karena pengaruh kata-katanya di telepon tadi :Ada hal penting yang aku ingin bicarakan dengan kamu,Re.
Kami duduk berhadap-hadapan. Aku tambah salah tingkah. Aku takut tampak buruk di matanya. Kujelajahi tubuhku yang terbalut t-shirt garis-garis ditumpuk t-shirt V-Neck dengan rok lipat. Oh...aku pasti cantik dimata Romeo. Aku berusaha percaya diri dan mencoba tersenyum untuk menebarkan pesonaku padanya.
”Jangan marah ya Re kalau aku nanya sama kamu,” Romeo menatapku. Aduh mama....hatiku terpanah!
”Iya, apa sih?” aku tak sabar. Aduh... apa yang harus aku jawab ya bila dia minta jawaban sekarang dari pertanyaan : Areta, aku jatuh cinta padamu, maukah kau jadi pacarku? Rangkaian kemungkinan-kemungkinan berloncatan di kepalaku dan mukaku memerah.
Aku mengangguk mantap. Cepatlah Romeo, katakan itu padaku.
”Nggg...,” Romeo garuk-garuk kepala. Aduh kenapa harus malu sih Romeo, percayalah, aku pasti menerima cintamu!
”Gini loh Re...aku...” tuh Romeo pakai tersendat-sendat gitu. Tiba-tiba aku teringat Yovita. Aduh, Romeo, cepat katakan, sebelum nanti aku berubah pikiran. Tahukah kau kalau ada sahabatku yang terluka karena mencintaimu?
Romeo beringsut pelan dan kini duduk disampingku. Tangannya meraih jemariku dan menggenggamnya dan aku sudah mau pingsan saja oleh letupan letupan di dadaku. Yovita, maaf....maafkaan aku....
”Gini Re, kau bilang pada Yovita, kalau aku sudah punya pacar? Betulkah? Sepertinya aku tak pernah cerita padamu?” tanya Romeo. Aku mengernyitkan dahi? ”Re, maaf ya kalau aku tak memeberi tahu kamu. Kemarin malam aku nembak Yovita. Aku telah lama naksir sahabatmu itu. Sering aku perhatikan dia sedang ngobrol sama kamu dari balik jendela kamar. Rasa itu aku simpan saja karena aku malu sama kamu. Tapi ketika aku berpapasan dengan Yovita di depan rumahmu hari Jumat kemarin, aku yakin aku tidak bisa memendamnya lebih lama. Dan sepertinya Yovita juga menyukaiku, dari sorot matanya aku tahu itu. Tapi Yovita menolakku, alasannya lucu banget, dia bilang aku sudah punya pacar dan dia percaya karena kau yang memberi tahu. Aku bingung Re. Aku kan tidak punya pacar, kau tahu itu kan? Aku minta bantuanmu sekarang, tolong katakan padanya kalau itu tidak benar, aku ingin dia menerima cintaku tanpa rasa curiga.”
Kata-kata Romeo seperti petasan yang meledak di kepalaku. Dadaku serasa dipukul sebongkah batu keras. Sakit dan berdarah. Aku terluka. Mataku nanar menatap Rromeo. Oh...dunia, menangislah untukku. Bunga-bunga di taman tertunduk lesu, daun-daun gugur putus asa dan lihatlah langit pun teriris, mengalirkan riak tangis pilu pada pagi hari Minggu ini.
...................
No comments:
Post a Comment