SMS dari Donna : “Yo, gue mau melacur neh…”
Aku mengernyitkan dahi, melacur? Astaga! Sudah gila temanku ini. Segera kupencet-pencet tombol HP ku.
“Gila lo Don, emank keabisan duit lo?”
SMS dari Donna : “Yasuuuww…..kalo ga’ boleh!”
Aku balas : “ Yasuuuwww??? Maksud lo? Bukannya nggak boleh Don…..”
SMS dari Donna : “LOL”
Huh….benar-benar sinting tuh anak. Segera kubalas SMS ngaconya itu : “Koq gitu sih? Nggak usah ngatain gue tolol donk!”
SMS dari Donna : “ABCD!”
Aku balas : “Tambah sinting!”
SMS dari Donna : “LOL ROFL”
Aku balas : “Udah, aku nggak mau ngomong sama kamu lagi!”
Ponsel langsung kumatikan.
“Yovita…..,” terdengar suara cempreng abangku, Johan, berteriak, “ada telepoooonnnn…”
Huh…aku bangun dengan malas. Ini pasti dari Donna.
“Bilangin gue nggak di rumah,”kataku pada Johan.
“Yah…keburu gue bilang lo ada, gimana sih!” tukas Johan, “emang kenapa?”
“Dia bilang gue tolol, siapa yang nggak khaki!” cetusku kesal.
Johan Cuma nyengir saja. Aku berjalan pelan menuju meja telepon. Biarin saja Donna lama menunggu. Emang enak?!
“Kenapa sih?” kataku judes tanpa berhalo lagi
“Hehehe….elo tuh marah tanpa sebab, tahu!” terdengar kekeh Donna yang nyaring, menyakiti kupingku.
“Emang lo pikir gue tolol!” semburku marah.
“Dengar, hunny, ah…susah deh ngomong sama elo,” Donna masih terkekeh, “itu kan semua bahasa gaul, non!”
“Maksud lo?” aku bingung.
“Ih….mulai besok, gue kasih elo catatan bahasa gaul, biar elo nggak kuper!” tandas Donna membuatku hampir meledak marah lagi. Kuper? Enak saja!
Aku baru saja masuk kelas ketika Donna menepuk bahuku.
”Nih, say, catatan gaul, mesti lo hapalin luar kepala!” Donna mencubit pipiku, ”sekarang gue cabut dulu ya, mau kencan...”
Aku menimpuk Donna dengan kertas kecil. Dasar Donna centil! Donna memang keren dan gaul sih, pacarnya aja gonta-ganti melulu, keren dan tajir lagi! Fff...aku teringat dua lembar keratas HVS dari Donna untukku. Astaga! Ini maksudnya kata-kata gaul! Koq ga ada asyik-asyiknya sih??
Aku menelusuri kata-kata gaul yang ditulis Donna dengan cepat. Mataku menangkap kata melacur.
”Oh....melacur itu artinya mau melakukan curhat ya,” gumamku geli. Hihi...pantas saja Donna tertawa, kukira dia mau melacur beneran....hahaha....
”Ya suw....oh..yah sudahlah, gitu,” gumamku.
LOL... laughing out loud (tertawa terbahak-bahak)! ROFL… Rolling on the floor laughing (tertawa terguling-guling di lantai) Hah! Jadi????
“Haha….gue kira lo ngatain gue tolol!” ujarku pada Donna ketika dia sudah duduk di dekatku.
“Makanya jadi anak gaul, biar nggak kuper!” cetus Donna membuat mataku melotot tajam padanya.
Tapi ternyata lama-lama asyik juga sih menggunakan bahasa gaul ini. Aku jadi pengen lekas menggunakan bahasa gaul hasil les privatku dari Donnam, bila mengirim pesan atau ngobrol bareng sohib-sohibku Uggh….aku kan juga pengen dibilang anak gaul donk!
“Anak SMP jaman sekarang pada sok gaul!” begitu kata abangku Johan, ketika aku mempraktekkan hasil belajar bahasa gaul ini.
“ABCD….aduh..bo’…capeeekk…deh!” balasku cuek.
“Duh…dibilangin tambah jadi deh,” bang Johan tampak gemas. Dicubitnya hidungku dengan keras.
“Uggh..PDA….plissss…deeeh..ahh!” teriakku kesal.
“Habisnya!” abangku yang memang gak gaul banget ini tambah geram.
“Dari pada kayak abang, suka BEJO!” seruku lalu berlari masuk ke kamar.
“Apaan!?” teriak Johan.
“Bengong Jorok! Huahahaaaa…!” aku tertawa keras sambil mengunci pintu kamar sebelum Johan menyusul dan mengacak rambutku.
Akhirnya aku benar-benar menikmati menjadi anak gaul. Hehe…lihatlah gayaku nggak cupu lagi! Ternyata bila kau tampik modis dan keren ditambah cara ngobrolmu yang gaul banget, tak akan sia-sia. Buktinya, Taufan, cowok kece, jago basket dan bintang Fisika di kelasku sepertinya sering mencuri pandang padaku.
“FYI (for your Information), Taufan dah makin lengket neh!”
Aku kirimkan SMSku itu pada Donna.
“Sumpeee Lo!”
Aku tersenyum menang melihat SMS sirik dari Donna. Ya iyalah, siapa sih nggak naksir Taufan. Semua anak cewek di kelasku selalu mencari perhatian bila ada Taufan. Tapi…tenang, aku tahu Taufan naksir aku. Buktinya, pagi tadi, tiba-tiba saja dia ngajak aku ngobrol di depan kelas. Agh…!
“PDA! Jangan sirik!” SMS balasanku.
“ABACDEFGHIJ (aduh boo.. Chapeee Deee Eke.. Fiuuhh Gubrakk!! Hii.. Jijay..” SMS Donna.
Aku balas : “LOL….lu pasti ngiri de..”
Balasan Donna : “NO WAY ”
Aku tertawa. Tiba-tiba aku teringat kalau Donna yang centil dan sok manja itu mengoleksi semua no HP teman-teman sekelas. Tentunya no ponsel Taufan pasti tak akan terlewatkan. Mmm..lebih baik aku telephone Donna neh.
“Don, bagi Nomornya Taufan dong,” kataku.
“Ah….elu, berjuang sendiri dong!” cetus Donna membuatku sebal.
“Ayolaah….”aku membujuknya.
Akhirnya setelah menghabiskan waktu sepuluh menit untuk memuji kecantikannya, kecentilannya, kemodisannya en ..en..semua-semua atribut tentang Donna yang huebbbat punya, yang terus terang membuat perutku mual, Donna menyebutkan sederet angka yang segera kucatat dengan tangan gemetar! Nomor ponsel Taufan tercinta!
Sekarang aku harus memutar otakku untuk menemukan kata-kata yang pantas untuk kukirim ke ponsel Taufan. Yah, jangan sampai tuh cowok menganggapku aneh saja! Seengak-enggaknya aku harus jual mahal dikit bo’! Fff..nanya soal Fisika kali yaa….Yap, biar gaya dan terlihat lebih cerdas!
“Sudah ngerjain PR Fisika belom ya?”
Deg deg an rasanya ketika SMS itu kukirim. Ugg…lagi apa ya Taufan sekarang? Cowok kece bermata bening itu membuat hatiku berdebar-debar mengingatnya. Yah…Taufan memang keren, badannya tinggi dengan kulit coklatnya membuatnya tampak menawan.
Tapi kok lama sih ngebalesnya ya? Aku menunggu dengan hati tak menentu. Tiba-tiba…ponselku bergetar. Ada Pesan. Dari Taufann?? Haaa…..
“Ini Yovita ? CMIIW (correct me if I wrong)”
Hah…Taufan gaul juga yak! Belum sempat aku membalas, masuk lagi SMS dari Taufan.
“udah dong….kamu? Yovita harus rajin belajar yaa..biar pinter n nggak cuma kece.”
Alamak! Aku hampir pingsan membacanya. Taufan bilang aku kece…??? Oh…Taufan…!! Segera kubalas SMS Taufan dengan kata-kata yang mulai lebih gaul dan berani. Ternyata Taufan juga anak gaul.
Rasanya aku tak sabar menceritakan kencanku di ponsel dengan Taufan pada Donna besok! Huahahaha…bisa mati berdiri kepanasan tuh cewek centil !
Pagi ini aku datang lebih pagi untuk mencegat Donna dan menemui si cowok kece ku tersayang, Taufan.
“Don, lu pasti nggak percaya deh,” bisikku pada Donna ketika dia baru saja masuk kelas, “Taufan bilang gue kece…OMG (Oh my God)!”
“Masa?” Donna mengulum senyum. Ugh…sirik kan?! "Yo…,”Donna sepertinya akan ngomong sesuatu tapi tidak jadi ketika sosok tubuh tinggi berambut cepak masuk ke kelas.
“Stt…, gue ke Taufan dulu ya,” kataku cepat meningalkan Donna yang melongo, bengong.
“Taufan……”kataku lembut dan mulai tersenyum yang paling manis, “sudah sarapan?”
Taufan menoleh dan memandangku bingung. Mmm…..pasti dia malu telah menggodaku kemarin.
“kamu kenapa sih?” tiba-tiba Taufan bertanya.
“Aghh…aku laper nih, Fan, makan yyyyuuukkkk….” Ujarku genit meniru cara Donna bila merayu cowok.
“Aku…aku..” Taufan terbata-bata. Uggh….baru segitu saja sudah salah tingkah dia!
“Fan, sini!” tiba-tia Jojo, sobat Taufan masuk ke kelas dan mengganggu kencanku dengan Taufan. Sebbbal!
“Aku keluar dulu ya,” kata Taufan padaku membuat mukaku panas dan menbelalak geram pada Jojo.
“Daagg….Yovi...” seru Jojo membuatku tambah kesal apalagi Taufan cuma diam saja melihatku jengkel.
“Huahahahaha…..” Donna terpingkal-pingkal melihatku.
Aku tambah mendelikkan mataku dengan tajam, gondok juga melihat kebahagiaan Donna diatas kesebalanku!
“Udah…udah…sekarang lihat PR Matematika dong?” ujar Donna.
“PR Matematika? Emang ada?” aku kaget.
“Ya ampun….cepetan bikin Yo, sebentar lagi bel masuk,” ujar Donna membuatku makin panik. Dengan cepat aku menyalin PR Matematika dari Donna. Tapi Bel masuk sudah berbunyi nyaring. OMG!
Pak Anton, guru Matematika yang terkenal killer masuk ke kelas dan langsung memerintahkan mengumpulkan buku PR. Aku ikut mengumpulkan PR ku yang belum selesai. Baru satu soal yang sempat aku salin.
“Yovita!” panggil pak Anton membuatku merinding.
“Ya pak..” aku menunduk dalam-dalam, malu plus takut. dan siap menerima hukuman.
“Coba lihat jawaban kamu? Apa ini!” Sembur pak Anton sambil buku PR Matematika yang ikut aku kumpulkan.
“Maaf Pak, saya lupa membuat PR,” kataku pelan.
“Ugh…lupa atau tak bisa?” sentak pak Anton membuat kelas makin hening dan membuat mukaku pasti tambah merah menahan malu. Dengan kasar Pak Anton membolak-balik buku PR ku.
“Coba apa ini? CMIIW, FYI, PDA….bla-bla..!” cetus Pak Anton membuatku kaget luar biasa. Astaga! Rupanya catatan bahasa gaul dari Donna terselip di buku PR ku.
“Itu…itu…” aku gelagapan. Terdengar suara cekikikan teman-temanku membuatku geram.
“Yah…sudah…sekarang kerjakan soal nomor dua ini di papan tulis!” ujar pak Anton.
Aku tergugu. Tiba-tiba otakku semakin buntu. Aku berpikir keras mengingat-ingat rumus matematika, tapi semakin aku berpikir semakin sakit kepalaku.
“Tidak bisa?” tanya pak Anton semakin sangar.
“Iya pak,” kataku semakin pelan.
“Sudah, kembali ke mejamu!” perintah pak Anton membuat lututku lemas, “gaul sih gaul, tapi tulalit!”
Seisi kelas riuh tertawa. Aku sudah hampir menangis saja. Ketika melewati meja Taufan, aku melihatnya cuma meringis saja, melihat aku, si anak gaul yang pasti tampak bodoh di matanya. Ugh!
“Stt…koq bisa lupa bikin PR sih?” tanya Donna ketika aku sudah duduk di sebelahnya.
“Kemarin aku sibuk ber “SMS gaul” sama Taufan, “kataku kecut.
“Taufan?!” Donna kaget, “masa sih Yo, sama Jojo kali….”
“Maksud lo?” aku bingung.
“Nomor yang aku kasih kan nomor Jojo, dia kan naksir kamu. Nomor hp kamu udah lama dimintanya” bisik Donna menahan senyum, “hehe….gue mana punya nomor si Taufan! Cowok dingin gitu!”
“Yang benar aja Don?!? Jadi?!” aku melotot
“Hehehe…”
“Sialan!” aku menjerit tak sadar.
“Yovita!” terdengar suara pak Anton menggelegar membuatku ciut, “keluar kelas sekarang, berdiri di halaman sekolah sampai jam pelajaran Matematika usai!”
“Tapi pak?” suaraku kelu.
“Keluar!”
“Ih…kalo gaul tapi tulalit sama aja cupu!” kudengar sindiran Melani, cewek jutek yang duduk di belakang Jojo.
Teman-temanku tertawa lagi mendengar sindiran Melani. Dan taufan? Astaga, mulutnya terbuka lebar, dia..dia…juga menertawakan kemalanganku?! Kakiku jadi tambah lemas selemas agar-agar!
No comments:
Post a Comment